MANAJEMEN LABA
POLA-POLA PERILAKU EKSEKUTIF BERKAITAN DENGAN TAHAPAN
PENAWARAN OPSI SAHAM:
UJI KOMPREHENSIF DI SEKITAR TANGGAL HIBAH
ABSTRACT
This paper investigates the patterns of
executive behavior to the each phase offer of stock option. Executives expected
stock prices decreases prior to the grant date with a purpose to obtain the
lower exercise and stock prices increases after the grant date with a purpose
to obtain the larger gains. While, this study also investigate whether
management manage factors of timing and option pricing model with identify the
difference behavior of every step stock option offering.
The amount of observation are 51
observations and the study finds that executives have ability to manage
information around option grant date. The effect is stronger when executives
release earnings before option grant date for period prior to ESOP. While, for
period after ESOP, the effect is stronger with manage fair value factors are
stock price volatility, but not support for the risk-free interest rate and
dividend yield. Based on phases of stock option offering, at prior to employee
stock option plan, there are the difference of influence of offer of the stock
option on earnings management behavior at phase 1 and 2. However compared to
phase 2, at phase 1 sharper than phase 2. After ESOP, slope of phase 3 is
sharper than slope of phase 1 and 2.
1. PENGANTAR
Program opsi saham karyawan (POSK) atau
dikenal dengan employee stock option plans (ESOP) adalah salah satu
bentuk kompensasi yang diberikan kepada karyawan, terutama karyawan eksekutif,
untuk menghargai eksekutif atas kinerja jangka panjang perusahaan. Hal penting
berkaitan dengan opsi saham yang dihibahkan kepada eksekutif adalah bahwa
hampir seluruh opsi dihibahkan dengan harga pengambilan (exercise price)
sama dengan harga saham pada tanggal hibah. Karena untung (gain) dari
opsi saham tergantung pada perbedaan antara harga pengambilan yang ditentukan
pada tanggal hibah dengan harga pasar pada tanggal pengambilan, maka kondisi
tersebut memungkinkan adanya perilaku oportunistik dari eksekutif. Perilaku
tersebut semakin terdukung jika magnituda opsi yang diterima relatif banyak (Asyik,
2006). Berdasarkan hal tersebut, manajer sangat berkepentingan terhadap
pergerakan harga saham.
Beberapa penelitian empiris menunjukkan
bahwa harga saham bergerak sebagai reaksi investor terhadap informasi akuntansi
yang dilaporkan perusahaan, salah satu di antaranya adalah laba (Ball dan
Brown, 1968). Secara empiris, laba digunakan sebagai alat ukur kinerja
manajemen yang lebih baik daripada aliran kas (Dechow, 1994). Laba sebagai
pengukur kinerja sekaligus alat dalam pengambilan keputusan memiliki
fleksibilitas yang diberikan oleh prinsip akuntansi berterima umum (PABU).
Manajemen juga memiliki beberapa kebijakan terhadap pengakuan akrual dalam laba
sehingga sulit bagi pemakai memperkirakan reliabilitas dari signal yang
dihasilkan manajemen. Di samping itu, adanya ketidakselarasan (misalignment)
antara manajer dan pemegang saham (shareholders) mendorong manajer
menggunakan fleksibilitas yang diberikan PABU untuk mengelola laba secara
oportunistik yang menyebabkan distorsi laba (Watts dan Zimmerman, 1986).
1 ESOP dalam pengertian employee
stock option plans merupakan penyertaan karyawan dalam kepemilikan saham
karyawan terbatas pada tingkat karyawan tertentu seperti direksi, manajemen,
serta karyawan pada posisi manajerial lainnya.
2 Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
yang menjadi sampel dalam penelitian ini menentukan harga pengambilan opsi
berdasarkan rata-rata harga saham perusahaan selama 25 hari bursa sebelum
tanggal hibah.
3 Menurut Balsam (2003), untung (gain)
masih merupakan expected gain (untung harapan), namun pada tanggal
pengambilan, untung tersebut menjadi daya tarik manajemen untuk mengambil hak
atas opsi saham tersebut. Di samping itu, perilaku penerima opsi pada tanggal
pengambilan sama dengan pada saat opsi tersebut dijual.
Manajemen diindikasi melakukan
pengelolaan laba dengan menurunkan harga pasar saham untuk sementara waktu
sebelum tanggal hibah dalam rangka mengurangi harga pengambilan opsi mereka
(Chauvin dan Shenoy, 2000; Balsam et al., 2003, Asyik, 2006) dan meningkatkan
harga pasar mendatang pada tanggal pengambilan (Yermack, 1997; Asyik, 2006)
dalam rangka memaksimumkan untung yang akan diperoleh. Selanjutnya, karena opsi
saham secara khas (typically) dihibahkan dengan harga pengambilan sama
dengan harga saham pada tanggal hibah, manajemen secara oportunistik mengelola
penyaatan pengungkapan informasi untuk meningkatkan nilai hibah (Asyik, 2006).
Jika eksekutif dapat mempengaruhi penyaatan hibah, mereka kemungkinan menyaati
hibah agar terjadi: (1) sesudah penurunan harga saham atau (2) sebelum
peningkatan harga saham.
Di samping itu, pada bulan Oktober 1995, Financial
Accounting Standards Board (FASB) mengeluarkan Statement of Financial
Accounting Standard (SFAS) No. 123 yang merekomendasi perusahaan mengakui
nilai wajar kompensasi saham sebagai jumlah rupiah kompensasi dalam laporan
keuangan dan menggunakan model penghargaan opsi (option pricing model)
dalam menghitung nilai opsi saham. Pada tanggal 4 September 1998, Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) mengeluarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang
berlaku efektif tanggal 1 Oktober 1998, dan melalui Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 53, opsi saham yang ditawarkan kepada karyawan
diukur dan diakui sebesar nilai wajar opsi saham yang bersangkutan. Nilai wajar
opsi saham diestimasi menggunakan model penghargaan opsi (model Black
Scholes/model binomial).
Model penghargaan opsi mengharuskan
perusahaan membuat beberapa estimasi di antaranya: (1) perioda opsi saham
harapan, (2) volatilitas (volatility) harga saham harapan, (3) suku
bunga bebas risiko harapan, dan (4) dividend yield harapan. Ketika
estimasi faktor ini mempengaruhi nilai wajar opsi (selanjutnya mempengaruhi
jumlah rupiah opsi) perusahaan dapat mengurangi jumlah rupiah opsi dengan
mengatur faktor tersebut (Johnston-Wilson, 2003).
4 Penyaatan berasal dari istilah timing.
Menurut kamus Webster’s New World, timing memiliki arti: (1) to
arrange or set the time dan (2) to set the duration. Dalam konteks
penelitian ini yaitu adanya kemampuan manajemen mengelola publikasi laporan
keuangan di sekitar tanggal hibah opsi, timing menunjukkan point of
time, sehingga lebih tepat menggunakan istilah penyaatan, sedangkan istilah
pewaktuan lebih mengarah pada unsur durasi.
Program
penawaran opsi saham dilakukan dalam beberapa tahapan dan diindikasi setiap
tahap memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pengelolaan laba (Asyik, 2006).
Isu akuntansi utama penelitian ini adalah bagaimana pola-pola perilaku
pengelolaan laba eksekutif untuk setiap tahapan penawaran opsi saham.
.
2. MOTIVASI PENELITIAN
Motivasi
penelitian ini adalah mengembangkan penelitian Asyik (2006, 2007) dengan
menentukan pola-pola perilaku eksekutif berkaitan dengan penawaran opsi saham.
Diindikasi setiap tahap penawaran opsi saham memiliki pengaruh yang berbeda
terhadap pengelolaan laba.
3. RUMUSAN
MASALAH
Rumusan masalah penelitian ini adalah
bagaimana pola-pola perilaku pengelolaan laba eksekutif untuk setiap tahapan
penawaran opsi saham.
4. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian
ini adalah menguji pengelolaan laba atas penawaran opsi saham dan menggambarkan
pola-pola perilaku pengelolaan laba eksekutif untuk setiap tahapan penawaran
opsi saham.
5. MANFAAT PENELITIAN
Dari segi penelitian/akademik, penelitian
ini memberi kontribusi pada penelitian akuntansi dengan mengidentifikasi
pengukuran lain (seperti jumlah opsi saham, penyaatan publikasi laporan
keuangan, dan penyaatan penawaran POSK) perusahaan kemungkinan mengatur untuk
mengelola laba. Dari segi teori, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat
dalam pengembangan ilmu yang akan memperkuat model hubungan prinsipal dan agen
(teori agensi). Dari segi kebijakan, hasil penelitian berkaitan dengan pengaturan
informasi ini diharapkan memberi pertimbangan pada kalangan regulator dalam
menetapkan peraturan terkait dengan bursa efek, khususnya tentang pengungkapan
informasi.
6. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
6.1. Tinjauan Umum
Program Opsi Saham Karyawan dan Pengelolaan Laba
Opsi saham menjadi lebih bernilai ketika
harga pasar saham meningkat melebihi harga pengambilan dan sebaliknya kurang
bernilai jika harga saham menurun di bawah harga pengambilan. Apabila eksekutif
yang memiliki hak atas opsi tersebut hampir pasti mengambil haknya, praktis
eksekutif tersebut telah memiliki saham tersebut saat itu. Perbedaannya adalah
karyawan tidak perlu membayar saham tersebut saat itu, namun membayar pada saat
karyawan mengambil hak atas opsi tersebut. Opsi saham diakui sebesar nilai
wajar, dan untuk menghitung nilai wajar opsi, beberapa model penghargaan opsi
diperkenankan yakni Black Scholes dan model binomial sebagaimana yang
dikemukakan di dalam SFAS No. 123. Di bawah akuntansi nilai wajar, nilai opsi
saham dihitung pada tanggal hibah dan dialokasikan selama perioda opsi.
Pengelolaan laba merupakan area yang
kontroversial dan penting dalam akuntansi keuangan. Beberapa pihak yang
berpendapat bahwa pengelolaan laba merupakan perilaku yang tidak dapat
diterima, mempunyai alasan bahwa pengelolaan laba berarti suatu pengurangan
keandalan informasi laporan keuangan (Assih, 2004). Investor mungkin tidak
menerima informasi yang akurat mengenai laba untuk mengevaluasi return dan
risiko portofolionya (Ashari et al., 1994). Bukti empiris menunjukkan bahwa
luasnya pilihan praktik akuntansi digunakan manajer untuk mengelola laba
menyebabkan laba tidak secara akurat mencerminkan hasil aktivitas ekonomi masa
lalu. Selanjutnya, investor tidak akan mampu membandingkan secara baik
alternatif kesempatan investasinya (Simpson, 1969).
Beberapa studi kompensasi eksekutif
menemukan hubungan antara program insentif jangka panjang dan perubahan
kinerja. Penelitian mengenai program kinerja berbasis akuntansi (Larcker, 1983 dalam
Yermack, 1997) dan program opsi saham (DeFusco et al., 1990) konsisten dengan
interpretasi bahwa kompensasi insentif mungkin memotivasi manajer membuat
keputusan superior. Sebagai alternatif, manajer mungkin memiliki pengaruh
terhadap kompensasi dan menggunakan kekuasaan (power) yang dimiliki
untuk memperoleh lebih banyak pembayaran berbasis kinerja atas kenaikan harga
saham.
6.2. Pola-Pola
Perilaku Pengelolaan Laba Berkaitan dengan Program Opsi Saham Karyawan (POSK)
6.2.1. Sebelum Tanggal Hibah Opsi: Penyaatan sebagai Pemoderasi
Tindakan eksekutif harus dikomunikasikan
ke pasar keuangan diantaranya melalui pengumuman laba atau pengungkapan
sukarela lainnya agar pengelolaan laba dapat efektif dalam mempengaruhi harga
saham. Jika manajer mampu mempengaruhi struktur kontrak kompensasi, penelitian
mengharap manajer akan menerima hibah opsi saham segera sebelum berita baik
yang mendorong harga saham meningkat. Studi sebelumnya menemukan bahwa abnormal
return negatif sebelum penawaran hibah opsi saham dan positif sesudah penawaran
hibah opsi saham (Yermack, 1997; Aboody dan Kasznik, 2000; Chauvin dan Shenoy,
2000). Pola return saham di
sekitar penawaran opsi saham konsisten dengan perilaku oportunistik eksekutif
yang bertujuan meningkatkan nilai opsi mereka.
Penelitian ini menguji bahwa asosiasi
antara akrual diskresioner dan kompensasi opsi saham akan dipengaruhi oleh
apakah laba yang di kelola diumumkan ke publik sebelum atau sesudah tanggal
hibah. Diindikasi bahwa eksekutif akan mengelola penyaatan pengungkapan
sukarela di sekitar tanggal hibah opsi saham. Penelitian ini menduga bahwa
eksekutif mengelola penyaatan baik penyaatan publikasi laporan keuangan maupun
penyaatan penawaran POSK. Strategi tersebut meyakinkan adanya harapan penurunan
harga saham perusahaan (Lampiran 1). Oleh karena itu, hipotesis operasional
dalam bentuk hipotesis alternatif dikembangkan sebagai berikut:
H1:
Pengaruh proporsi opsi saham pada pengelolaan laba menurun akan makin kuat
ketika perusahaan mengatur saat penerbitan laporan keuangan ke publik
Berkaitan dengan penawaran opsi saham yang
dilakukan secara bertahap, diindikasi setiap tahap dalam perioda jendela
pengambilan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pengelolaan laba.
Penelitian ini membedakan hasil setiap tahap karena berkaitan dengan pengujian
komprehensif penawaran opsi saham sebelum dan sesudah tanggal hibah, terdapat
pertentangan kepentingan antara tahap tertentu untuk pengujian yang berbeda
sehingga menambah penjelasan perilaku manajemen pada setiap tahap (Lampiran 1).
Untuk perioda sebelum tanggal hibah,
eksekutif mengharap pada tahap-tahap awal terjadi penurunan harga saham untuk
sementara waktu, dengan harapan kondisi tersebut akan diikuti oleh penentuan
harga pengambilan yang semakin murah, sehingga eksekutif yang akan mengambil
haknya atas opsi saham akan membayar murah. Oleh karena itu, hipotesis
operasional dalam bentuk hipotesis alternatif dikembangkan sebagai berikut:
H2:
Sebelum tanggal hibah opsi, perilaku pengelolaan laba menurun akan makin kuat
pada tahap awal penawaran opsi saham ketika perusahaan menerbitkan laporan
keuangan ke publik sebelum tanggal hibah opsi.
6.2.2. Sesudah Tanggal Hibah Opsi:
Nilai Wajar Opsi sebagai Pemoderasi
Johnston-Wilson (2003) menunjukkan bahwa
mayoritas perusahaan publik mengungkap pengaruh pro forma atas
kompensasi berbasis saham di bawah pendekatan nilai wajar. Aboody dan Kasznik
(2000) menguji karakteristik perusahaan yang mengakui jumlah rupiah opsi saham
secara sukarela. Hasil penelitian menunjukkan bahwa probabilitas pengakuan
jumlah rupiah opsi saham secara sukarela berkaitan dengan kontrak berdasarkan
akuntansi, aktivitas di pasar modal, dan ukuran perusahaan. Dalam penelitian
yang serupa, Bastian et al. (2003) menemukan bahwa perusahaan yang mengakui
jumlah rupiah opsi saham (beroperasi dalam industri non keuangan) memiliki
kebutuhan yang lebih besar untuk membangun kepercayaan investor dan biaya
pelaporan keuangan yang lebih rendah relatif terhadap perusahaan yang tidak
mengakui jumlah rupiah opsi saham.
Berdasarkan model penghargaan opsi, nilai
wajar opsi saham ditentukan sebagai fungsi meningkat (increasing function)
atas variabel volatilitas harga dan suku bunga bebas risiko, dan merupakan fungsi
menurun (decreasing function) atas variabel dividend yield.
Ketika jumlah rupiah opsi saham didasarkan pada nilai wajar opsi saham,
volatilitas harga dan suku bunga bebas risiko yang diestimasi lebih rendah
serta dividend yield yang diestimasi lebih tinggi menyebabkan jumlah
rupiah kompensasi berbasis saham akan diestimasi lebih rendah. Dengan demikian,
perusahaan dapat mengurangi jumlah rupiah opsi saham yang direfleksi dalam laba
akuntansi dengan mengatur faktor-faktor model penghargaan opsi tersebut. Kenyataan
tersebut diperkirakan akan mengatur jumlah rupiah opsi yang menurun dengan
mengatur faktor-faktor model penghargaan opsi. Oleh karena itu, hipotesis
operasional dalam bentuk hipotesis alternatif dikembangkan sebagai berikut:
H3:
Pengaruh proporsi opsi saham pada pengelolaan laba menaik akan makin kuat
ketika volatilitas harga kejutan makin rendah.
H4:
Pengaruh proporsi opsi saham pada pengelolaan laba menaik akan makin kuat
ketika suku bunga bebas risiko kejutan makin rendah.
H5:
Pengaruh proporsi opsi saham pada pengelolaan laba menaik akan makin kuat
ketika dividend yield kejutan makin tinggi.
Pada perioda sesudah tanggal hibah, eksekutif
mengharap pada tahap akhir terjadi kenaikan harga saham, terutama saat opsi
saham akan jatuh tempo, dengan harapan kondisi tersebut akan diikuti oleh
penentuan harga jual yang semakin naik, sehingga eksekutif yang akan mengambil
haknya atas opsi saham akan memperoleh untung. Oleh karena itu, hipotesis
operasional dalam bentuk hipotesis alternatif dikembangkan sebagai berikut:
H6:
Sesudah tanggal hibah opsi, perilaku pengelolaan laba menaik akan makin kuat
pada tahap akhir penawaran opsi saham
7. METODA PENELITIAN
7.1. Data dan Sampel Penelitian
Penelitian ini menggunakan data sekunder
yang dibatasi pada data laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang terdaftar
di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang telah menerapkan Program Opsi Saham mulai
tahun 1999 hingga 2003. Sumber data diperoleh dari laporan tahunan di Bursa
Efek Jakarta (BEJ), Indonesian Capital Market Directory (ICMD), Indonesian
Security Market Database (ISMD) Universitas Gadjah Mada (UGM), dan dari
wawancara baik secara langsung door to door maupun melalui internet.
Sampel penelitian terdiri atas 25 perusahaan yang menyediakan informasi
keuangan untuk semua perioda analisis. Jumlah observasi mulai 1999 hingga 2003
sebanyak 51 observasi (Tabel 1).
Pelaksanaan program opsi saham karyawan
masing-masing perusahaan sampel penelitian berbeda-beda, dan oleh karena
penelitian ini membatasi perioda pengamatan sampai dengan tahun 2003, maka
penelitian ini terdiri atas perusahaan yang membagikan opsi saham mulai tahap
1, tahap 2, dan tahap 3. Penelitian ini juga menguji pola perilaku pengelolaan
laba berkaitan dengan
Jumlah Observasi Keterangan
|
Jumlah Observasi
|
|
POSK Tahap 1
|
25
|
|
POSK Tahap 2
|
16
|
|
POSK Tahap 3
|
10
|
|
Jumlah Observasi Penelitian
|
51
|
|
7.2.
Definisi Operasional
Variabel dependen H1-H6 adalah akrual
diskresioner yang diestimasi menggunakan model Jones modifikasian (Dechow et
al., 1995) untuk mengukur tingkat pengelolaan laba.
DAit =
TAit-1/Ait-1–[a1(1/Ait-1)+b2(ΔREVit-ΔRECit/Ait-1)+b3(PPEit/Ait-1)] (1)
Variabel independen hipotesis 1 dan 2 adalah proporsi opsi
saham yang ditawarkan perusahaan kepada karyawan. Balsam et al. (2003)
mengemukakan bahwa proporsi opsi saham karyawan merupakan jumlah lembar opsi
saham yang dihibahkan kepada karyawan selama jendela kejadian dideflasi dengan
kepemilikan manajerial.
Variabel pemoderasi pada perioda sebelum POSK adalah
penyaatan baik penyaatan publikasi laporan keuangan maupun penyaatan penawaran
opsi saham. Apabila laporan keuangan dipublikasi sebelum tanggal hibah opsi
maka di beri kode 1, dan sebaliknya. Sedangkan variabel pemoderasi pada perioda
sesudah POSK adalah faktor-faktor model penghargaan opsi di antaranya
volatilitas harga kejutan, suku bunga bebas risiko kejutan, dan dividend
yield kejutan.
VHKit
= (VHSit - VHHit) / VHHit (2)
SBBRKit
= (SBBRSit - SBBRHit) / SBBRHit (3)
DYKit = (DYSit - DYHit) / DYHit (4)
dalam
persamaan di atas VHKit adalah volatilitas harga kejutan perusahaan i perioda
t, VHSit adalah volatilitas harga sesungguhnya perusahaan i perioda t, dan
VHHit adalah volatilitas harga harapan perusahaan i perioda t. Selanjutnya
SBBRKit adalah suku bunga bebas risiko kejutan perusahaan i perioda t, SBBRSit
adalah suku bunga bebas risiko sesungguhnya perusahaan i perioda t, dan SBBRHit
adalah suku bunga bebas risiko harapan perusahaan i perioda t. Sedang DYKit
adalah dividend yield kejutan perusahaan i perioda t, DYSit adalah dividend
yield sesungguhnya perusahaan i perioda t, dan DYHit adalah dividend
yield harapan perusahaan i perioda t.
7.3.
Teknik Analisis
Penelitian ini menggunakan alat analisis utama yaitu
regresi linear berganda dan spesifikasi model penelitian adalah sebagai
berikut:
Model
Penelitian Hipotesis 1 dan 2:
ADSbl(it) = β0+β1HBit+β2D2it+β3D3it+β4PYit+β5D2*HBit+β6D3*HBit
+β7PY*HBit+εit (5)
Model
Penelitian Hipotesis 3, 4, 5 dan 6:
ADSsd(it) = β0+β1HBit+β2D2it+β3D3it+β4VHKit+β5SBBRKit+
β6DYKit+β7D2*HBit+β8D3*HBit+β9VHKit*HBit+
β10SBBRKit*HBit+β11DYKit*HBit+β12VHKit*SBBRKit*DYKit+
β13VHKit*SBBRKit*DYKit*HBit+ εit (6)
dalam
persamaan di atas ADSbl(it) adalah akrual diskresioner sebelum tanggal hibah,
ADSsd(it) adalah akrual diskresioner sesudah tanggal hibah, HBit adalah jumlah
opsi saham, dan PY it merupakan variabel kategoris untuk penyaatan. VHKit,
SBBRKit, dan DYKit didefinisi dalam persamaan (2), (3), dan (4). Penelitian ini
juga mengontrol efek industri dalam kategoris keuangan (kode 1) dan non
keuangan (kode 0).
8. HASIL PENELITIAN
8.1.
Statistik Deskriptif
Deskripsi variabel penelitian ini
terbagi dalam 2 kelompok berdasarkan perioda penawaran opsi saham yaitu sebelum
POSK dan sesudah POSK. Nilai rata-rata akrual diskresioner sebelum penawaran
opsi saham menunjukkan nilai negatif sebesar -0,001
Hal tersebut konsisten dengan penelitian
sebelumnya (Chauvin & Shenoy, 2000; Baker et al., 2002; Balsam et al.,
2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan secara umum
melakukan pengelolaan laba dan manajemen lebih memilih kebijakan akrual yang
menurunkan laba sebelum tanggal hibah opsi saham. Di sisi lain, nilai rata-rata
akrual diskresioner sesudah penawaran opsi saham menunjukkan nilai positif
sebesar 0,066, hal tersebut konsisten pula dengan penelitian sebelumnya
(Yermack, 1997; Gao & Shrieves, 2002). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perusahaan secara umum melakukan pengelolaan laba, dan manajemen lebih memilih
kebijakan akrual yang menaikkan laba sesudah tanggal hibah opsi saham.
Deviasi standar seluruh variabel nilainya relatif kecil
(berkisar 0,014 sampai 0,515), hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku
pengelolaan laba berkaitan dengan program opsi saham karyawan tidak terlalu
bervariasi. Nilai deviasi standar yang tidak terlalu besar tersebut menunjukkan
bahwa tingkat penyimpangan masing-masing variabel tidak signifikan (Lampiran 2).
8.2. Hasil Pengujian dan Pembahasan
Hipotesis 1 dan 2
Hasil analisis hipotesis 1 yang menguji dampak penyaatan
publikasi laporan keuangan di sekitar tanggal penawaran opsi saham pada
pengaruh opsi saham pada pengelolaan laba disajikan dalam tabel 2.
Tabel 2
Hasil Regresi
Hipotesis 1 dan 2
ADSbl(it) =
β0+β1HBit+β2D2it+β3D3it+β4PYit+β5D2*HBit+
β6D3*HBit+β7PY*HBit+εit Variabel
|
Koefisien
|
Nilai t-statistik
|
Nilai p
|
Intercept
HB
D2
D3
PY
|
0,140
0,871
-0,180
-0,106
0,054
|
1,958
0,513
-2,489
-1,303
0,820
|
0,057
0,611
0,017 **
0,199
0,417
|
D2*HB
D3*HB
PY*HB
R2
(Adjusted)
F
|
9,685
1,742
-12,633
0,657 (0,601)
11,756 ***
|
2,569
0,334
-6,332
|
0,014 **
0,740
0,000 ***
|
Keterangan:
ADSbl =
Akrual Diskresioner Sebelum Tanggal Hibah, HB = Hibah Opsi Saham, PY =
Penyaatan Publikasi Laporan Keuangan di sekitar Tanggal Hibah Opsi Saham, D2 = Dummy
(Kategoris) Tahap 2, D3 = Dummy (Kategoris) Tahap 3
***
Secara statistis signifikan pada tingkat 0,01
**
Secara statistis signifikan pada tingkat 0,05
*
Secara statistis signifikan pada tingkat 0,10
Nilai F kalkulasian sesudah memasukkan variabel interaksi
sebesar 11,756 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000, dengan demikian secara
statistis signifikan pada 1%. Besarnya R2 adalah 0,657, yang berarti
bahwa variasi tingkat AD dijelaskan 65,7% oleh variabel HB dan variabel PY.
Sisanya 34,3% dijelaskan oleh variabel relevan lainnya.
Hasil
regresi yang mengandung variabel interaksi menunjukkan bahwa koefisien variabel
PY (β4)
sebesar 0,054 dengan p-value sebesar 0,417 secara statistis tidak
signifikan. Hal tersebut memberi dukungan pada prediksi awal bahwa variabel PY
merupakan pemoderasi terhadap pengaruh hibah opsi saham pada pengelolaan laba.
Hipotesis 1 diuji dengan t-test yaitu menguji secara parsial
signifikansi koefisien PY*HB. Dampak pemoderasi variabel PY pada pengaruh HB
terhadap AD ditunjukkan oleh koefisien PY*HB (β7). Koefisien interaksi antara
penyaatan penawaran hibah opsi dan hibah opsi saham (β7)
adalah -12,633. Nilai t hitung dari koefisien ini adalah -6,332 dengan nilai
probabilitas sebesar 0,000. Pada tingkat signifikasi 1% disimpulkan bahwa H01 dapat
ditolak. Bukti empiris mendukung hipotesis penelitian 1 (H1) bahwa
pengaruh hibah opsi saham pada tingkat pengelolaan laba semakin besar dengan
adanya pengelolaan penyaatan publikasi laporan keuangan di sekitar saat
penawaran hibah opsi.
Penelitian ini konsisten dengan dengan studi Aboody dan
Kasznik (2000) dan Baker et al. (2002).
Perilaku oportunistik di sekitar penawaran hibah opsi saham
mendukung Lie (2004) bahwa komite kompensasi yang menentukan jumlah dan
penyaatan hibah opsi saham, tetapi terdapat beberapa alasan untuk menyarankan
bahwa eksekutif mempengaruhi keputusan komite kompensasi. Pertama, Yermack
(1997) menemukan bahwa eksekutif sering mengusulkan parameter hibah opsi saham,
sedangkan komite kompensasi hanya mensahkan usulan tersebut. Kedua, eksekutif
kemungkinan mempengaruhi keputusan komite melalui pertemanan yang dekat (close
friendships) dengan anggota komite individual. Ketiga, eksekutif
kemungkinan mempengaruhi saat pertemuan (meetings) komite kompensasi,
yang secara reguler bertepatan dengan tanggal hibah.
Tabel 2 juga meringkas hasil regresi hipotesis 2 dengan membagi
sampel berdasarkan tahapan penawaran opsi. Tahapan penawaran opsi tersebut juga
dikemukakan dalam bentuk variabel kategoris. Gambar 1 menggambarkan pengaruh
hibah opsi terhadap pengelolaan laba untuk setiap tahap dengan mempertimbangkan
faktor penyaatan (PY).
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada perioda sebelum POSK,
terdapat perbedaan pengaruh penawaran opsi saham terhadap perilaku pengelolaan
laba manajer pada tahap 1 dan tahap 2, sedangkan tahap 3 tidak berbeda dengan
tahap 1. Koefisien kategoris tahap 2 dan tahap 3 sebesar -0,180 dan -0,106
dengan p-value tahap 2 sebesar 0,017 signifikan secara statistis dan
tahap 3 sebesar 0,199 tidak signifikan secara statistis.
Gambar 1 menunjukkan bahwa lereng tahap 1 lebih curam
dibanding tahap 2, hal tersebut menunjukkan bahwa sedikit saja terdapat
tambahan jumlah opsi yang ditawarkan pada tahap 1 menyebabkan perubahan akrual
diskresioner yang makin besar dibandingkan tahap 2. Dengan demikian bukti
mendukung hipotesis penelitian 2 (H2) bahwa perilaku pengelolaan
laba menurun akan makin kuat pada tahap awal penawaran opsi saham.
8.3. Hasil Pengujian dan Pembahasan
Hipotesis 3, 4, 5, dan 6
Hasil analisis hipotesis 3, 4, dan 5 yang menguji dampak
faktor model penghargaan opsi pada pengaruh opsi saham terhadap pengelolaan
laba disajikan dalam tabel 3.
Tabel 3
Hasil Regresi
Hipotesis 3, 4, 5, dan 6
ADSsd(it) =
β0+β1HBit+β2D2it+β3D3it+β4VHKit+β5SBBRKit+β6DYKit+β7D2*HBit+
β8D3*HBit+β9VHKit*HBit+β10SBBRKit*HBit+β11DYKit*HBit+
Koefisien
|
Nilai t-statistik
|
Nilai p
|
|
Intercept
HB
D2
|
-0,036
1,489
0,073
|
-1,484
2,728
1,872
|
0,146
0,010 ***
0,069 *
|
D3
VHK
SBBRK
DYK
D2*HB
D3*HB
VHK*HB
SBBRK*HB
DYK*HB
VHK*SBBRK*DYK
VHK*SBBRK*DYK*HB
R2
(Adjusted)
F
|
-0,083
-1,671
0,013
0,016
2,912
7,224
-0,076
-0,068
0,368
-0,285
-1,074
0,643 (0,517)
5,117 ***
|
-1,685
-0,993
0,423
0,436
1,365
2,252
-2,357
-0,102
0,643
-0,131
-0,061
|
0,100 *
0,327
0,675
0,665
0,180
0,030 **
0,024 **
0,920
0,524
0,896
0,952
|
Keterangan:
ADSsd =
Akrual Diskresioner Sesudah Tanggal Hibah, HB = Hibah Opsi Saham, VHK =
Volatilitas Harga Saham Kejutan, SBBRK = Suku Bunga Bebas Risiko Kejutan, DYK =
Dividend Yield Kejutan, D2 = Dummy (Kategoris) Tahap 2, D3 = Dummy
(Kategoris) Tahap 3
***
Secara statistis signifikan pada tingkat 0,01
**
Secara statistis signifikan pada tingkat 0,05
*
Secara statistis signifikan pada tingkat 0,10
Nilai F kalkulasian sesudah memasukkan variabel interaksi
sebesar 5,117 dan nilai probabilitas sebesar 0,000 secara statistis signifikan
pada 1%. Besarnya R2 adalah 0,643, yang berarti bahwa variasi tingkat AD
dijelaskan 64,3% oleh variabel HB dan faktor-faktor model penghargaan opsi.
Sisanya 35,7% dijelaskan oleh variabel-variabel relevan lainnya.
Hasil regresi yang mengandung variabel interaksi
menunjukkan bahwa koefisien variabel VHK (β4), SBBRK (β5), dan
variabel DYK (β6) sebesar -1,671, 0,013, dan 0,016 dengan p-value sebesar
0,327, 0,675, dan 0,665, dengan demikian secara statistis tidak signifikan.
Hipotesis 3, 4, dan 5 diuji dengan t-test yaitu menguji secara parsial
signifikansi koefisien VHK*HB, SBBRK*HB, dan DYK*HB. Dampak pemoderasi variabel
faktor-faktor model penghargaan opsi pada pengaruh antara HB dengan AD
ditunjukkan oleh koefisien VHK*HB (β9), SBBRK*HB (β10), dan
DYK*HB (β11)
yaitu sebesar -0,076, -0,068, dan 0,368 dengan p-value sebesar 0,024,
0,920, dan 0,524. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sesudah diinteraksikan
dengan variabel hibah, faktor volatilitas harga saham signifikan pada tingkat
5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H03 dapat ditolak, namun tidak
berhasil menolak hipotesis H04 dan H05. Bukti empiris mendukung
hipotesis penelitian 3 (H3) bahwa pengaruh hibah opsi saham pada
tingkat pengelolaan laba semakin besar dengan adanya pengelolaan faktor
volatilitas harga di dalam model penghargaan opsi. Hasil konsisten dengan
penelitian Johnston-Wilson (2003).
Tabel 3 juga meringkas hasil regresi hipotesis 6 dengan
membagi sampel berdasarkan tahap penawaran opsi. Gambar 2 menggambarkan pengaruh
hibah opsi saham terhadap pengelolaan laba manajemen untuk setiap tahap dengan
memperhitungkan faktor-faktor model penghargaan opsi.
= (β0+β2)+(β1)HBit
Tahap 3 ADSsd(it) = (β0+β3)+(β1+β8)HBit
Berdasarkan gambar 2 dapat disimpulkan bahwa lereng tahap 1
dan tahap 2 besarnya sama, dengan demikian setiap perubahan hibah yang
diberikan kepada karyawan akan mempengaruhi besarnya akrual diskresioner yang
besarnya sama pula. Akan tetapi dibandingkan dengan tahap 3 penawaran opsi
saham, lereng tahap 3 lebih tajam dibandingkan dengan lereng tahap 1 dan tahap
2, sehingga adanya penambahan hibah opsi saham yang sama akan menyebabkan
perubahan akrual diskresioner yang lebih tajam pada tahap 3 dibandingkan tahap
1 dan tahap 2. Diindikasi hal tersebut terjadi karena pada perioda sesudah
penawaran opsi saham, tahap 2 dan tahap 3 tujuannya hampir searah, artinya
rata-rata manajer secara keseluruhan mengharapkan harga saham menaik.
8.4. Hasil Pengujian Jenis Industri
Penelitian ini menguji apakah terdapat perbedaan perilaku
pengelolaan laba berkaitan dengan opsi saham antara perusahaan kategoris
keuangan dan non keuangan. Hasil pengujian sebelum POSK sebagaimana dalam
lampiran 3 menunjukkan bahwa koefisien DIndst (β3) dan koefisien
interaksi DInd*HB
(β5) sebesar -0,029 dan 2,751 dengan p-value sebesar 0,660 dan 0,323,
dengan demikian secara statistis tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan baik konstanta maupun lereng diantara kedua regresi
(keuangan dan non keuangan).
9.KESIMPULAN,KETERBATASAN DAN SARAN
9.1. Simpulan
Pola perilaku sebelum tanggal hibah. hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengaruh hibah opsi saham pada tingkat pengelolaan laba
semakin besar dengan adanya pengelolaan penyaatan publikasi laporan keuangan di
sekitar penawaran hibah opsi saham. Pengaruh tersebut diuji lebih lanjut dengan
membagi sampel berdasarkan tahap-tahap penawaran opsi saham, dan hasil
pengujian menunjukkan bahwa lereng tahap 1 lebih curam dibanding lereng tahap
2, hal tersebut menunjukkan bahwa sedikit saja terdapat tambahan jumlah opsi
yang ditawarkan pada tahap 1 akan menyebabkan perubahan terhadap akrual
diskresioner yang makin besar dibandingkan dengan tahap 2. Diindikasi hal
tersebut disebabkan karena yang menerima opsi saham pada tahap 1 adalah manajer
level atas sedang yang menerima opsi saham pada level berikutnya selain ada
tingkat pengelolaan laba semakin besar dengan adanya penge ereng tahap 3 lebih
tajam dibandingkan dengan lereng tahap 2 dan tahap Penelitian ini hanya mempertimbangkan
variabel kompensasi jangka panjang pel penelitian juga terdiri atas beberapa
jenis industri dan penelitian ini menggabungkan seluruh observasi untuk seluruh
industri tersebut. Penelitian ini manajer level atas juga manajer level
menengah. Disimpulkan bahwa perilaku pengelolaan laba makin kuat dilakukan pada
tahap 1 dan semakin berkurang kekuatannya pada tahap-tahap selanjutnya dengan
alasan tujuan sudah hampir tercapai pada tahap 1, sedang pada tahap berikutnya
terdapat perbedaan kepentingan di antaranya: (1) di satu sisi, atas opsi saham
yang diterima pada tahap 1 menginginkan harga saham menaik pada tahap
berikutnya, sedang (2) opsi saham yang diterima pada tahap 2 masih menginginkan
harga saham menurun untuk memperoleh harga pengambilan yang rendah. Pola Perilaku Sesudah Tanggal Hibah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh hibah opsi saham pengelolaan
factor volatilitas harga di dalam model
penghargaan opsi.
Hal
tersebut disebabkan karena penentuan besarnya volatilitas harga saham pada saat
menentukan nilai wajar opsi didasarkan pada kebijakan manajemen. Akan tetapi
penelitian ini tidak mendukung adanya pengaruh faktor suku bunga bebas risiko
dan dividen yield pada perilaku pengelolaan laba menaik berkaitan dengan
penawaran opsi saham. Ini disebabkan karena faktor suku bunga bebas risiko
didasarkan pada suku bunga SBI yang sulit untuk dikelola dan dividend yield ditentukan
berdasarkan laporan keuangan auditan perusahaan. Pembagian sampel penelitian
berdasarkan tahap-tahap penawaran opsi saham menunjukkan bahwa l
3, sehingga adanya penambahan hibah opsi saham yang sama
akan menyebabkan perubahan akrual diskresioner yang lebih tajam pada tahap 3
dibandingkan tahap 1 dan tahap 2. Diindikasi hal tersebut terjadi karena pada
perioda sesudah penawaran opsi saham, tahap 2 dan tahap 3 penawaran opsi saham
tujuannya sudah hampir searah, dengan kata lain pada perioda tersebut rata-rata
manajer mengharapkan harga saham menaik.
9.2.Keterbatasan
Penelitian ini hanya mempertimbangkan
variabel kompensasi jangka panjang ini hanya mempertimbangkan variabel
kompensasi jangka panjang ini hanya mempertimbangkan variabel kompensasi jangka
panjang Sam l penelitian juga terdiri
atas beberapa jenis industri dan penelitian ini menggabungkan seluruh observasi
untuk seluruh industri tersebut. Penelitian ini tidak m ngamatan yang lebih
lama diharapkan karena kemungkinan akan m mperoleh sampel penelitian yang cukup
banyak dan memberikan hasil yang Di samping itu, penelitian berikutnya dapat
menguji sampel penelitian yang diperoleh berdasarkan pemilihan sampel
berdasarkan penawaran opsi pada perioda yang sama, akan tetapi menyeleksi
sampel penelitian setiap tahap sesuai dengan perioda kapan perusahaan
menerapkan POSK. Hal tersebut disebabkan karena terbatasnya jumlah sampel,
sehingga tidak memungkinkan untuk menganalisis sampel penelitian yang sama
setiap perioda.
9.3.Saran
Pengujian
dengan pengamatan yang lebih lama
diharapkan kemungkinan akan memperoleh
sampel penelitian yang banyak dan memberikan hasil yang lebih baik. Di samping
itu, penelitian berikutnya dapat menguji sampel penelitian yang diperoleh
berdasarkan perioda yang sama untuk
mengetahui apakah ada perbedaan perilaku pengelolaan laba berkaitan dengan opsi
saham, sehingga dapat diperoleh perbandingan dengan pengujian menggunakan
sampel penelitian berdasarkan perioda kapan perusahaan mulai menerapkan program
opsi saham.
CATATAN; MAKALAH DI ATAS BISA DIJADIKAN CRITICAL REVIEW
DON'T FORGET COMMENT :) !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar